Sumber: Museum Benteng Vredeburg, Dokumen pribadi
Casmudi Van Casmudi Van

Museum Benteng Vredeburg dan Edukasi Sejarah

Museum Benteng Vredeburg merupakan tempat wisata sejarah yang berada di Kota Yogyakarta. Museum ini merupakan bangunan lama sebagai peninggalan Belanda dan didirikan saat Sri Sultan Hamengkubuwono I. Tempat wisata ini patut anda kunjungi.

Selalu ada alasan untuk berpetualang ke Yogyakarta yang mengusung tagline “Never Ending Asia”. Keramahtamahan dan dialek masyarakat yang “njawani” membuat saya ingin selalu ingin mengunjunginya. Bukan karena saya pernah tinggal di kota ini hampir satu tahun lamanya. Namun, karena pesona wisata Yogyakarta yang selalu membuat kangen ingin bernostlgia menapaki setiap sudut wisata yang ada.  

Benar apa yang ada dalam lagunya KLA Project yang menceritakan suasana jalan Malioboro membuat Kota Yogyakarta selalu menarik pengunjung karena budaya. Banyak tempat wisata yang wajib dikunjungi. Tidak jauh dari jalan Malioboro, terdapat wisata sejarah yang banyak didatangi masyarakat baik dari Kota Yogyakarta maupun dari luar daerah yaitu Museum Benteng Vredeburg. Ini adalah tempat wisata yang bisa memberikan edukasi kepada generasi muda tentang sejarah perjuangan khususnya masyarakat Yogyakarta.   

Tidak salah kiranya, ketika kita melihat tampilan dari luar bahwa tempat ini merupakan bangunan peninggalan penjajahan Belanda. Jika kita melihat sejarah tempat wisata tersebut dari berbagai literatur, maka kita akan memahami bahwa pembangunan Museum Benteng Vredeburg ini berkaitan erat dengan sejarah penting saat pembagian kekuasaan antara Kota Surakarta (Solo) dan lahirnya Kesultanan Yogyakarta. Yakni, berawal dari Perjanjian Giyanti di Tuntang Salatiga tanggal 13 Februari 1755 yang merupakan hasil politik Belanda menghasilkan kesepakatan dari pertikaian antara Susuhunan Pakubuwono III (Solo) dengan Pangeran Mangkubumi (yang akhirnya bergelar Sultan Hamengku Buwono I).

Namun, lahirnya Kesultanan Yogyakarta berkembang pesat yang dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwono I justru membuat rasa was-was Belanda takut Kesultanan Yogyakarta berbalik memusuhinya. Oleh sebab itu, Belanda memberikan usul kepada Kesultanan Yogyakarta untuk  membangun sebuah benteng yang tidak jauh dari keraton. Benteng tersebut dibangun dengan alasan agar Belanda dapat menjaga keamanan keraton dan sekitarnya. Namun, sebenarnya ada niat jahat dari Belanda dengan gagasan tersebut yaitu untuk mempermudah dalam mengontrol segala perkembangan yang terjadi di dalam keraton. Bahkan, keberadaan benteng tersebut disinyalir sebagai benteng strategi, intimidasi dan  penyerangan Belanda.  

Menurut sejarah bahwa benteng tersebut pertama kali dibangun pada tahun 1760 oleh Sultan Hamengku Buwono I atas permintaan Belanda di mana Gubernur Belanda dari Direktur Pantai Utara Jawa dipimpin oleh Nicolaas Harting. Yang menarik, benteng tersebut justru pertama kali tidak semegah sekarang. Kondisinya sederhana yang temboknya terbuat dari tanah yang diperkuat dengan tiang-tiang penyangga dari kayu pohon kelapa dan aren. Sedangkan, bangunan yang ada di dalamnya terbuat dari  kayu dengan atap hanya ilalang.

Jika, kita melihat benteng dari udara maka akan terlihat berbentuk bujur sangkar. Keempat sudut benteng tersebut sebagai tempat penjagaan yang disebut seleka atau bastion. Sultan Hamengkubuwono I memberi nama keempat sudut tersebut dengan nama Jaya Wisesa (sudut barat laut), Jaya Purusa (sudut timur laut), Jaya Prakosaningprang (sudut barat daya), dan Jaya Prayitna (sudut tenggara).

Ketika Gubernur Belanda berganti pemimpinnya yaitu W.H. Van Ossenberg maka kondisi benteng dibangun kembali secara permanen pada tahun 1767 agar bisa menjamin keamanan. Pembangunan tersebut selesai tahun 1787 (20 tahun lamanya) di bawah pengawasan ahli ilmu bangunan Belanda yang bernama Ir. Frans Haak. Untuk memberi identitas maka benteng tersebut diberi nama Rustenberg yang berarti benteng peristirahatan. Sayang, berjalannya waktu terjadi gempa dahsyat di Yogyakarta yang mengakibatkan kerusakan sebagian benteng. Akhirnya, tahun 1867 benteng dipugar kembali dan namanya diganti menjadi  Vredeburg yang berarti benteng perdamaian dengan maksud hubungan antara keraton dan Belanda tetap terjalin dengan baik.


***


Tempat wisata Museum Benteng Vredeburg mempunyai luas lahan kurang lebih 2100 meter persegi  yang mencakup beberapa koleksi antara lain: 1) Bangunan-bangunan peninggalan Belanda, yang dipugar sesuai bentuk aslinya; 2) Diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan sebelum Proklamasi Kemerdekaan sampai dengan masa Orde Baru; dan 3) Koleksi benda-benda bersejarah, foto-foto, dan lukisan tentang perjuangan nasional dalam merintis, mencapai, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Indonesia.

Museum Benteng Vredeburg beberapa kali berubah fungsi, yaitu: 1) Pada tahun 1760 – 1830 sebagai benteng pertahanan; 2) Pada tahun 1830 -1945 sebagai markas militer Belanda dan Jepang; 3) Pada tahun 1945 – 1977 berfungsi sebagai markas militer RI; 4) Pada tahun 1977 hingga sekarang atas nama Pemerintah melalui Mendikbud Bapak Daoed Yoesoep sesuai persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku pemilik, pada tanggal 9 Agustus 1980 ditetapkan sebagai pusat informasi dan pengembangan budaya nusantara; 5) Pada tanggal 16 April 1985 dipugar kembali menjadi Museum Perjuangan dan dibuka untuk umum pada tahun 1987; dan 6) Pada tanggal 23 November 1992 hingga sekarang resmi menjadi “Museum Khusus Perjuangan Nasional” dengan nama “Museum Benteng Yogyakarta”.

Secara garis besar, Museum Benteng Vredeburg mempunyai beberapa fasilitas seperti: 1) Perpustakaan; 2) Ruang Pertunjukan; 3) Ruang Seminar, Diskusi, Pelatihan dan Pertemuan; 4) Audio Visual & Ruang Belajar Kelompok; 5) Hotspot gratis; 6) Pemandu; 7) Ruang Tamu; 8) Mushola; dan 9) Kamar mandi. Lokaasi fasilitas tersebut diberi petunjuk berupa arah penunjuk (plang) yang terbuat dari kayu. Hal ini untuk mempermudah pengunjung ketika hendak menikmati fasilitas yang diinginkan. Dan, gedung-gedung yang ada berbentuk bangunan lama/Belanda.

 Museum Benteng Vredeburg memberikan pengalaman wisata yang berharga dengan berbagai koleksi yang ada untuk memberikan pemahaman kepada pengunjung. Koleksi yang pertama tentunya berupa bangunan yang memberikan nuansa tempo dulu. Sebelum kita memasuki kawasan benteng, kita akan melihat selokan atau parit yang mengelilingi benteng. Jaman dulu, parit ini digunakan sebagai penghalang dari serangan musuh. Namun, sekarang digunakan sebagai drainase atau penampung air hujan.  

Melewati parit, tentu kita akan melewati sebuah jembatan. Perlu diketahui bahwa jembatan tersebut jaman dahulu sebagai jembatan angkat (gantung) dengan maksud untuk menghindari musuh masuk ke dalam benteng.  Selanjutnya, bangunan utama tentu berupa benteng yang berdiri kokoh berbentuk segi empat atau bujur sangkar. Benteng ini berfungsi sebagai  alat pertahanan, pengintaian, penempatan meriam-meriam kecil maupun senjata tangan. Bangunan yang berwarna putih membawa angan-angan saya ke masa penjajahan seperti di film-film perjuangan.

Dan, untuk memasuki kawasan dalam benteng, kita akan melalui akses pintu gerbang yang berjumlah tiga buah yaitu di sebelah barat, timur, dan selatan. Khusus sebelah selatan, pintu gerbang dibuat lebih kecil dari gerbang lainnya. Lanjut, ketika kita berkunjung ke bagian dalam maka kita akan melihat beberapa bangunan model lama yang dulu berfungsi sebagai barak prajurit dan perwira, yang kemudian pada perkembangannya beralihfungsi menjadi tangsi militer. Bangunan lain yang menarik perhatian saya adalah Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949. Bangunan ini mengingatkan kita tentang perjuangan para pejuang melawan penjajahan Belanda.  

Koleksi museum yang kedua adalah berupa Koleksi Realita. Koleksi ini menunjukan koleksi museum yang berupa benda (material) yang benar-benar nyata (bukan tiruan). Bahkan, koleksi tersebut justru sangat berperan langsung dalam sejarah, yang berupa peralatan rumah tangga, senjata, naskah, pakaian, peralatan dapur, dan lain-lain. Saya mengamati dengan jeli koleksi-koleksi ini seperti: mesin cetak kertas Koran, pedang yang digunakan masa penjajahan Jepang, baju-baju yang dipakai para pejuang, baju kebesaran tokoh di dunia pendidikan dan lain-lain.

Koleksi museum selanjutnya adalah berupa foto, miniatur, replika, lukisan, dan atau benda hasil visualisasi lainnya. Melihat koleksi ini menunjukan bahwa benda yang ada seperti wujud aslinya. Sangat menarik saat mengamati replika Ibu Negara Fatmawati sedang menjahit Bendera Sang Saka Merah putih. Senyumnya memberikan aura bahwa beliau begitu bangga melakukan hal tersebut. Banyak juga foto-foto lama yang mayoritas berwarna hitam putih yang menggambarkan perjalanan sejarah perjuangan bangsa.  

Yang membuat tergugah rasa nasionalisme saya adalah ketika mengamati 2 patung jendral yang mengabdikan dirinya demi perjuangan bangsa Indonesia dalam kemiliteran, Jendral Soedirman dan Oerip Soemohardjo. Patung yang berdiri hampir berdampingan dan terpisah jalan untuk hilir-mudik pengunjung dibuat seperti aslinya. Tidak salah rupanya jika kedua tokoh fenomenal tersebut menjadi ikon di dalam kawasan Museum Benteng Vredeburg.  

Koleksi terakhir yang menarik tidak mau saya lewati adalah adegan peristiwa sejarah dalam bentuk diorama. Saya merasa nyaman karena diorama tersebut dibuat dalam ruangan yang ber-AC. Saya sendiri betah berlama-lama untuk mengamati setiap diorama yang ada. Sebagai informasi bahwa diorama yang ada di museum ini terdiri dari 4 bagian yang dipisahkan dalam 2 gedung yang berbeda. Setiap diorama yang ada membawa bayangan saya ke masa masa silam.  

Adapun, ruang diorama yang ada adalah: 1) Ruang Diorama I, terdiri dari 11 buah diorama yang menggambarkan peristiwa sejarah yang terjadi sejak periode Perang Diponegoro sampai masa pendudukan Jepang di Yogyakarta (1825-1942); 2) Ruang Diorama II, terdiri dari 19 buah diorama yang menggambarkan peristiwa sejarah sejak Proklamasi atau awal kemerdekaan sampai dengan Agresi Militer Belanda I (1945-1947); 3) Ruang Diorama III, terdiri dari 18 buah diorama yang menggambarkan peristiwa sejarah sejak adanya Perjanjian Renville sampai dengan pengakuan kedaulatan RIS (1948-1949); dan 4) Ruang Diorama IV, terdiri dari 7 buah diorama yang menggambarkan peristiwa sejarah periode Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai Masa Orde Baru (1950-1974). Saya sampai terkagum-kagum betapa perjuangan pejuang kita dalam merebut kemerdekaan bangsa  ini. Ini adalah sebuah kenyataan yang harus dipahami oleh generasi bangsa sekarang ini.

Museum Benteng Vredeburg semakin menarik dengan adanya fasilitas baru yang berupa Ruang Pengenalan. Fasilitas ini sangat bermanfaat bagi pengunjung untuk mendapatkan berbagai jenis perjuangan bangsa. Fasilitas yang dibuat dalam bentuk ruang  studio mini yang berkapasitas kurang lebih 50 orang. Di ruang ini, pengunjung akan dijamu dengan film-film dokumenter yang panjang durasinya antara 10-15 menit. Sangat cocok untuk menggugah rasa kebangsaan pengunjung agar merasa bahwa perjuangan pahlawan sedemikian hebatnya tanpa menuntut rasa pamrih.  

Berkembangnya dunia digital dalam balutan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menuntut Museum Benteng Vredeburg untuk mengikuti perkembangan jaman. Apalagi, sarana digital yang ada akan merangsang masyarakat untuk datang berkunjung ke museum. Bukan hanya itu, dengan Media interaktif yang ada di museum sejak tahun 2012 membuat pengunjung untuk ikut terlibat dalam memahami sejarah secara lebih mendalam.

Mengagumkan, dengan adanya format layar sentuh membuat setiap pengunjung untuk mencoba menjalin komunikasi dengan media interaksi yang ada. Ini adalah strategi yang baik untuk mengetes sejauh mana pengetahuan pengunjung  tentang sejarah perjuangan bangsa dalam bentuk berbagai pertanyaan yang menantang. Media Interaktif yang ada di Diorama I dan II ini sangat berperan bagi pengunjung untuk ikut berpartisipasi mewujudkan interaksi intens dengan media yang disediakan oleh pihak museum.  

Nah, jika pengunjung ingin menonton film-film perjuangan yang merupakan koleksi museum, maka jangan lewatkan untuk berkunjung ke Ruang Audiovisual yang terletak di Gedung F, lantai 2. Perlu dipahami bahwa film-film tersebut diputar setiap hari Jumat jam 13.00 WIB dan hari Minggu jam 10.00 dan 13.00 WIB pada minggu kedua, ketiga, dan keempat setiap bulan. Film-film yang ditayangkan tentunya dengan jadwal film yang berbeda. Menarik sekali bukan?

Saya merasa bangga bahwa Museum Benteng Vredeburg melakukan sebuah terobosan menarik. Hal ini dikarenakan secara mayoritas museum dengan format konvensional atau lama akan sangat membosankan dan sepi pengunjung. Tetapi, museum tersebut membuktikan bahwa model museum yang melengkapi dirinya dengan format digital dan kondisi ruangan yang ber-AC dan melibatkan pengunjung untuk berinteraksi dalam media layar sentuh memberikan pemahaman tentang edukasi sejarah perjuangan bangsa.  

Terakhir, menarik bagi saya ketika tulisan “Museum di Hatiku” merupakan judul lukisan ada dalam museum tersebut. Ini bisa memberikan rangsangan kepada saya dan pengunjung lainnya untuk mengunjungi museum adalah hal yang menyenangkan dan menambah pengetahuan. Oleh sebab itu, keinginan untuk mengunjungi museum merupakan kebiasaan yang perlu dipertahankan. Karena, kini museum bukanlah tempat yang sepi, gelap dan membosankan. Tetapi, sekarang museum telah beralihrupa menjadi tempat yang ramai, terang benderang dan menyenangkan dengan berbagai sarana edukasi yang ada. Yuk, ke museum!


Related Posts

River-tubing-di-lava-bantal-bikin-merinding River Tubing Di Lava Bantal Bikin Merinding
Apa yang pertama terlintas di benakmu ketika mendengar kata lava bantal? Apakah itu lava panas berbentuk bantal yang bertebaran? hehehe ternyata bukan.
/
Desi Sri /
4 1239 0
Gereja-gotik-jogja-ternyata-bukan-tempat-ibadah Gereja Gotik Jogja Ternyata Bukan Tempat Ibadah
Bentuk dari Gereja Gotik atau Gereja Tua Yogyakarta yang mengadopsi gaya arsitektur Eropa acap kali mencuri perhatian masyarakat, baik mereka yang bermukim di Yogyakarta ataupun bagi mereka yang sekedar berkunjung dan melihat bangunan ini.
/
Iriana Septi /
0 497 0