Nathania Lavita Nathania Lavita

Tradisi Adat Sekaten yang Selalu Jadi Alasan Wisatawan untuk Datang ke Jogja di Akhir Tahun

Bagi warga Yogyakarta tidak akan asing lagi dengan Pasar Malam Perayaan Sekaten atau yang biasa disebut Sekaten. Sekaten adalah salah satu acara adat di yogyakarta yang ada sejak zaman Kerajaan Demak (abad ke-16)

Sekaten diadakan setahun sekali pada bulan Maulud, bulan ke tiga dalam tahun Jawa, dengan mengambil lokasi di pelataran atau Alun-alun Utara Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Asal usul istilah Sekaten berkembang dalam beberapa versi. Ada yang berpendapat bahwa Sekaten berasal dari kata Sekati, yaitu nama dari dua perangkat pusaka Kraton berupa gamelan yang disebut Kanjeng Kyai Sekati yang ditabuh dalam rangkaian acara peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW. Pendapat lain mengatakan bahwa Sekaten berasal dari kata suka dan ati (suka hati, senang hati) karena orang-orang menyambut hari Maulud tersebut dengan perasaan syukur dan bahagia dalam perayaan pasar malam di Alun-alun Utara.

Sebelum upacara Sekaten dilaksanakan, diadakan dua macam persiapan, yaitu persiapan fisik dan spiritual. Persiapan fisik berupa peralatan dan perlengkapan upacara Sekaten, yaitu Gamelan Sekaten, Gendhing Sekaten, sejumlah uang logam, sejumlah bunga kanthil, busana seragam Sekaten, samir untuk niyaga, dan perlengkapan lainnya, serta naskah riwayat maulud Nabi Muhammad SAW. Gamelan Sekaten adalah benda pusaka Kraton yang disebut Kanjeng Kyai Sekati dalam dua rancak, yaitu Kanjeng Kyai Nogowilogo dan Kanjeng Kyai Guntur Madu. Gamelan Sekaten tersebut dibuat oleh Sunan Giri yang ahli dalam kesenian karawitan dan disebut-sebut sebagai gamelan dengan laras pelog yang pertama kali dibuat. Alat pemukulnya dibuat dari tanduk lembu atau tanduk kerbau dan untuk dapat menghasilkan bunyi pukulan yang nyaring dan bening, alat pemukul harus diangkat setinggi dahi sebelum dipuk pada masing-masing gamelan. 

Sedangkan Gendhing Sekaten serangkaian lagu gendhing yang digunakan, yaitu Rambu pathet lima, Rangkung pathet lima, Lunggadhung pelog pathet lima, Atur-atur pathet nem, Andong-andong pathet lima, Rendheng pathet lima, Jaumi pathet lima, Gliyung pathet nem, Salatun pathet nem, Dhindhang Sabinah pathet em, Muru putih, Orang-aring pathet nem, Ngajatun pathet nem, Batem Tur pathet nem, Supiatun pathet barang, dan Srundeng gosong pelog pathet barang. Untuk persiapan spiritual, dilakukan beberapa waktu menjelang Sekaten. Para abdi dalem Kraton Yogyakarta yang nantinya terlibat di dalam penyelenggaraan upacara mempersiapkan mental dan batin untuk mengembang tugas sakral tersebut. Terlebih para abdi dalem yang bertugas memukul gamelan Sekaten, mereka menyucikan diri dengan berpuasa dan siram jamas.

Penanda Sekaten resmi dibuka saat para abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengeluarkan gamelan Kyai Sekati pada tanggal 5 Maulud. Gamelan itu terdiri atas dua gamelan yaitu Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogowilongo. Keduanya diletakkan di sisi kiri dan kanan bangsal Ponconiti, Keben. Lalu, mulai dimainkan setelah shalat Isya.

Pemain gamelan atau biasa disebut niaga wajib menyucikan diri terlebih dulu. Setelah berpuasa selama 24 jam, mereka ikut kenduri. Kebiasaan “bersih diri” itu dilakukan para niaga atas kesadaran pribadi. Bukan “dawuh dalem” atau perintah dari Sri Sultan. Para niaga memainkan gamelan itu dengan tempo sangat lamban selepas shalat Isya sampai tengah malam. lalu memindahkan gamelan tersebut ke kompleks masjid Besar di bangsal Pagongan – yang disediakan khusus untuk gamelan itu.  Menurut kepercayaan yang ada di masyarakat, uang itu bisa membawa keberuntungan bagi yang memperolehnya. Bahkan, ada yang cuma ingin menikmati euforia atau keriuhan mereka yang berdesak-desakan. Pada malam itu juga, ada banyak penjual nasi gurih, makanan khas saat Sekaten.

Tanggal 11 Maulud atau malam terakhir gamelan Kyai Sekati ada di komplek Masjid Besar. Malam itu disebut juga “Malam Garebeg.” Saat itu sebagian besar anggota masyarakat berduyun-duyun ke Alun-Alun Utara. Lalu berkumpul di samping pintu masuk Pagelaran dan Masjid Besar.Setelah gamelan Kyai Sekati kembali ke keraton, upacara Sekaten selesai. Meski begitu, pasar malamnya terus berlangsung sampai seminggu lebih lama. Lalu, esoknya, tanggal 12 Maulud dilangsungkan upacara Garebeg.

 

Share

Related Posts

Launching-website-museum-virtual-karaton-ngayogyakarta-bisa-diakses-umum Launching Website, Museum Virtual Karaton Ngayogyakarta Bisa Diakses Umum
Kraton Yogyakarta merupakan pusat dari museum hidup kebudayaan Jawa yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kraton juga menjadi kiblat perkembangan budaya Jawa, sekaligus penjaga nyala kebudayaan tersebut.
/
Desi Sri /
0 817 0